Oleh : Ratnasari Nugraheni
E-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Rabu (16/4) bertempat di perpustakaan Rifka Annisa diadakan diskusi film berjudul “12 Years a Slave”. Film besutan sutradara Steve McQueen ini meraih penghargaan Oscar tahun 2014 nominasi kategori film terbaik dan aktris pendukung terbaik. Film ini mengisahkan era perbudakan di Amerika pada abad 19. Kisahnya diambil dari pengalaman nyata Solomon Northup yang diculik kemudian dijadikan budak selama 12 tahun di 1841.

Pada diskusi yang diadakan pukul 09.30-12.00 WIB hadir sekitar 10 peserta. Acara diawali dengan menonton bersama film yang berdurasi 2 jam tersebut. Usai menonton, dimulailah sharing pendapat dan perasaan berkaitan tentang film tersebut. Meski hanya berlangsung selama 30 menit, peserta dapat mengungkapkan pendapatnya satu per satu.

Secara umum, peserta merasa tersentuh dan prihatin terhadap perbudakan yang terjadi di era tersebut. Niken mengungkapkan, “Aku lebih menyoroti tentang bagimana keinginan untuk menguasai itu melahirkan bentuk-bentuk kekuasaan.” Niken berpendapat bahwa perbudakan tidak hanya terjadi dalam relasi majikan-hamba. Akan tetapi, lebih luas terkait relasi kuasa baik dalam keluarga, hubungan pacaran, ataupun pekerjaan. Dia juga menambahkan, “Ada 1 kutipan yang saya suka, hukum berubah tapi kebenaran universal tetaplah sama”. Lain halnya Ari, dia berpendapat, “Film ini bagus karena menceritakan seseorang yang hak-haknya tidak terpenuhi. Akan tetapi, saya penasaran mengenai akhir cerita, setelah Solomon bebas dari perbudakan.”

Melalui film ini, penonton diajak untuk merenungkan kembali bahwa perbudakan dalam bentuk apa pun hanyalah melahirkan penderitaan atas kehidupan seseorang. Kita pun kembali diingatkan bahwa masing-masing manusia memiliki hak untuk merdeka dan memilih kehidupannya.

Selasa, 22 April 2014 10:04

Perang Bergejolak, Perempuan Waspada

Oleh: Ratnasari Nugraheni
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Selasa (15/4), Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan Universitas Sungkonghoe, Korea Selatan menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Introducing Democratic Peace Principles and Political Situation in South Korea”, pada pukul 09.00-11.00 WIB. Sekitar 50 peserta yang terdiri dari berbagai institusi dan LSM daerah Yogyakarta hadir dalam seminar tersebut. Francis Daehoon Lee selaku guru besar Universitas Sungkonghoe menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Dia yang juga memiliki pengalaman sebagai penasihat perdamaian, keamanan, dan perempuan di bawah naungan PBB untuk regional Asia-Pasifik.

“We are in a war, Korea is in a war”, ujar Francis dalam awal presentasinya. Sudah sejak lama Korea terbagi menjadi 2, Korea Utara dan Selatan. Sejak itu pula banyak anggota keluarga terpisah, ibu dan ayah terpisah dari anak, perempuan dan anak-anaklah yang menjadi korban perang paling menderita.

Saat ini pun, perang saudara kedua negara tersebut masih berlangsung walaupun tidak secara fisik, dan lebih menjurus ke perang dingin. Imbasnya, anak remaja laki-laki usia lebih dari 15 tahun harus mengikuti wajib militer. Hal inilah yang menimbulkan adanya male chauvinism yang menjadi akar tumbuhnya budaya patriarki. Adanya steriotipe di mana laki-laki disebut laki-laki sejati bila dia dapat menahan rasa sakit dan kuat mengikuti wajib militer. Kemudian, sejak dini, sejak mengenyam bangku pendidikan, anak-anak sudah diperkenalkan perang melalui kurikulum sekolah. Perang secara umum berdampak pada lahirnya prostisusi di setiap pangkalan militer. Perempuan di daerah konflik menjadi korban kekerasan seksual.

Setelah perang berakhir, perempuan masih tetap menjadi korban. Kembalinya para prajurit perang akan merampas pekerjaan kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena selama perang, kaum laki-laki yang menjadi prajurit dan perempuan yang bekerja dan menempati kekosongan pekerjaan. Posisi pekerjaan yang kosong tidak mungkin dibiarkan, karena hal ini akan berdampak pada bidang ekonomi, kemudian tentunya akan mempengaruhi pembiayaan perang. Usai perang, prajurit yang selamat akan diberikan kompensasi sebagai imbal jasanya. Pekerjaan dan penghidupan layaklah yang akan diberikan pemerintah. Artinya, pekerjaan yang selama ini diisi perempuan, akan diserahkan kepada laki-laki. Perempuan secara terpaksa diberhentikan dan kembali ke rumah.

Di rumah pun, perempuan masih perlu waspada. Laki-laki yang pulang dari medan perang akan lebih mudah tersulut emosi, kekerasan dalam rumah tangga pun menjadi ancaman. Hal-hal inilah yang menjadikan kaum perempuan terus-menerus menjadi korban paling menderita. Di akhir diskusi, Francis menegaskan bahwa perang selamanya tidak akan melahirkan kehidupan yang lebih baik, di awal maupun akhir perang.

Selasa, 22 April 2014 10:01

Kartini Muda, Remaja Kartini

Oleh : Ratnasari Nugraheni
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Seratus tiga puluh lima tahun silam di Jepara, Jawa Tengah, lahirlah seorang perempuan yang diberi nama Raden Ajeng Kartini. Tanggal kelahirannya, yakni 21 April menjadi momentum emansipasi terhadap kaum perempuan. Pendidikan menjadi poros utama yang diperjuangkan Kartini di eranya, di mana waktu itu perempuan tidak diperbolehkan untuk mengenyam bangku pendidikan. Lalu bagaimana dengan perjuangan perempuan masa kini, terlebih para remaja?

Kini, peringatan hari perjuangan perempuan Indonesia dirayakan dalam balutan berbagai kegiatan dan perlombaan. Secara umum, hal-hal tersebut selalu saja sama dari tahun ke tahun, yakni dengan penggunaan kebaya dan lomba memasak di sekolah-sekolah. Keidentikan peringatan Kartini tersebut patut dicermati kembali, di mana kegiatan-kegiatan tersebut masih mencerminkan penggambaran perempuan dalam budaya partriarkal.

Perempuan masih diidentikkan dengan pakaiannya (penggunaan kebaya) dan tugasnya di dapur (lomba memasak). Sejak dini melalui sekolah dan lingkungan, perempuan masih ditanamkan pada kodratnya yang hanya memiliki batas bekerja di sumur dan dapur. Surat-surat indah Kartini yang ditujukan pada koleganya di Eropa yang dibukukan dan diberi judul “Door Duisternis Tot Licht” atau dalam bahasa Indonesia, “Habis Gelap Terbitlah Terang” pun sudah mulai terlupakan.

Menelaah kembali perjuangan Kartini yang berporos pada pendidikan, lomba membaca surat Kartini dan menulis dapat menjadi kegiatan yang sejalan dengan makna perjuangan Kartini, terlebih melalui pelibatan remaja. Di tengah budaya membaca dan menulis yang kepopuleran dan minat di lingkup remaja yang semakin menurun, kegiatan ini dapat menjadi ajang implementasi perjuangan Kartini muda masa kini.

39455438
Today
This Week
This Month
Last Month
All
5019
40467
108265
195891
39455438