Menjadi Ayah dan Menjadi Laki-laki

Written by  Ani Rufaida Senin, 25 April 2016 12:22

Widodo, begitu orang memanggilnya. Ia seorang Linmas di Desa Ngalang Gedangsari. Karena keaktifannya di bagian hukum ia diminta terlibat dalam sebuah forum penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak (FPK2PA) di Desa Ngalang.

Keterlibatannya di dalam forum ini juga berangkat dari keingintahuannya tentang Rifka Annisa. Rifka Annisa yang berarti teman perempuan, ia pahami juga sebagai teman laki-laki. Hal inilah yang membuat ia ingin mengenal lebih dekat tentang program Rifka Annisa baik tujuan sekaligus manfaat bagi dirinya.

Sebagai laki-laki sekaligus ayah dari anak-anaknya, Widodo memahami bahwa dia dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungannya. Didikan orangtuanya pun sangat mempengaruhi perilakunya. Dulu ia berpikir bahwa laki-laki pencari nafkah utama, bekerja dan mengambil keputusan di dalam keluarga. Perempuan sebagai pendamping hidupnya dianggap hanya memiliki tugas-tugas di dalam rumah seperti sumur, kasur dan dapur. Pemahaman ini ia yakini sampai ia tumbuh dewasa dan menjadi seorang kepala keluarga.

Namun kini ia bisa memahami bahwa apa yang pernah ia pelajari dari lingkungannya merupakan konstruksi budaya dan mengakibatkan persoalan gender di dalam masyarakat. Anggapan laki-laki sebagai pencari nafkah utama mengharuskan laki-laki bekerja keras dan punya uang, tidak ada ruang bagi laki-laki untuk tidak bisa bekerja, jika ada laki-laki yang tidak bekerja dan hanya menjaga anaknya di rumah banyak orang yang akan mencemooh laki-laki. Demikian halnya ketika istri terlibat bekerja dan aktif dalam ranah publik, perempuan itu dianggap tidak menghargai suami. Keharusan-keharusan ini membuat seseorang tidak menjadi dirinya. Pemahaman ini pula yang membuat dirinya beranggapan bahwa keluarga ada dibawah kontrolnya.

Pemahaman ini disadari oleh Widodo di dalam keluarganya. Ia kini lebih bisa menghargai istrinya. Dalam keluarga bagi dia saling menghargai dan saling membantu. Kini ia juga belajar mengendalikan diri, jika ia marah dan sangat emosional ketika menghadapi permasalahan dalam keluarga. “Ada jalan yang baik yang bisa saya lakukan, mengapa tidak dilakukan”, katanya saat diskusi.

Proses ini juga tidak mudah bagi dirinya, setiap kali ia belajar, setiap kali pula ia berdinamika dalam dirinya. Ia merenungi setiap prosesnya dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan ia memandangi istrinya saat tidur dan membuat dirinya sampai menangis. Apa yang telah dilakukan istrinya selama ini seperti mengurus anak, melakukan semua pekerjaan rumah dan bahkan membantu mencari tambahan ekonomi ternyata pekerjaan yang berat. Bagi Widodo apa yang telah diberikan istrinya tidak sebanding dengan apa yang diberikan kepadanya dan keluarga.

“Dulu setiap pagi kalau tidak ada teh dan kopi saya marah,” kenangnya. Kini ia tidak lagi marah karena ia bisa melakukan itu sendiri dan tidak menjadi tanggung jawab istrinya. Widodo sudah bisa melatih kesabaran dirinya. Anggapan budaya yang ditanamkan di dalam dirinya tidak semua benar, jika benar seharusnya menguntungkan kedua belah pihak dan sama sama setara.

Proses ini membuat Widodo semakin terbuka. Jika ada masalah ia lebih bisa mengelola emosi dan tidak melakukan tindakan yang negatif. Ia pun mengambil waktu keluar dan pergi untuk meredam emosinya, dan setelah membaik ia kembali kerumah. Bagi Widodo ini sangat bermanfaat untuk membangun keluarga yang lebih baik dan lebih harmonis. Ia bisa melakukan ini dari diri sendiri, keluarga dan lingkungannya. “Tidak selalu menggunakan perkataan tapi dari tindakan, itu lebih mengena dan mudah diterima oleh masyarakat,” jelasnya. []

Read 1481 times Last modified on Selasa, 25 Juli 2017 17:21
39455213
Today
This Week
This Month
Last Month
All
4794
40242
108040
195891
39455213