Blog

Written by Kamis, 27 Juli 2017 Published in Blog
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kasus di sekolah saya. Begini ceritanya. Ini bukan masalah sepele tapi masalah yang sangat dipastikan dapat merugikan berbagai pihak. Anak muda jaman sekarang beda sekali dengan anak muda jaman dulu. Kata orangtua, anak jaman dulu selalu mempertimbangan resiko yang akan diterima ketika melakukan berbagai tindakan, sedangkan anak jaman sekarang sifatnya maunya muluk-muluk tanpa berikir panjang dan hanya mementingkan kenikmatan sesaat. Itu menurut saya, mungkin dari kalian ada yang tidak sependapat. Saya amati di berbagai berita, remaja masa kini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Didukung dengan kemajuan teknologi, justru banyak masalah yang ditimbulkan seperti pornografi, bullying, terjebak pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Mereka ini kan merupakan masa depan bangsa yang merupakan aset yang paling berharga. Namun mereka malah terjebak dalam suatu situasi yang menghilangkan potensi bahkan tidak ada kualitas untuk menjadi penerus bangsa. Hamil di…
Written by Selasa, 25 Juli 2017 Published in Blog
Film drama romantis (2013) diadaptasi dari novel karangan Buya Hamka. Mengisahkan tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Berlatar tahun 1930-an, Zainuddin datang ke kampung halaman ayahnya,Padang Panjang. Disana ia bertemu dan jatuh cinta dengan Hayati. Namun cinta mereka terhalang oleh adat dan istiadat yang mengharuskan Hayati menikah dengan laki-laki dari keluarga Minang terpandang, melainkan Zainuddin yang dianggap tidak bersuku karena beribu seorang Bugis, serta lahir dan besar di Makassar. Cinta dua sejoli pun harus terpisah hingga kematian menghampiri tanpa ada kesempatan untuk menikmati indahnya pernikahan.   Dalam film ini tokoh Hayati terpaksa menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan laki-laki dari keluarga Minang yang terpandang demi menjaga nama baik keluarga. Masyarakat Minang menganut sistem matrilineal, dimana garis kekerabatan ditarik dari garis keturunan ibu. Sementara itu, pola pernikahan yang berlaku di Minangkabau bersifat…
Written by Selasa, 04 Juli 2017 Published in Blog
Tahun 2012 saya mendapatkan tugas di salah satu desa di Kecamatan Gedangsari, bagian utara Kabupaten Gunungkidul. Sebagai orang yang lama hidup di dekat pantai, tugas ini menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak? Demi mencapai tempat ini, saya harus melewati jalanan berliku dengan lebar hanya 1,5 meter. Jalan ini adalah jalan utama menuju kecamatan, sekaligus jalur provinsi yang jauh dari standar layak. Untuk mengenal Gedangsari, perlu juga mengenal tujuh desa bagiannya, yakni Hargomulyo, Mertelu, Watu Gajah, Sampang, Serut, Ngalang, dan Tegalrejo. Sampang, Watu Gajah, Mertelu, dan Tegalrejo berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Ngalang berbatasan dengan Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan Serut berbatasan dengan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Ketika memasuki desa-desa wilayah Gedangsari, kita akan melihat para petani sedang di sawah, memanen padi, menanam kacang dan beberapa tanaman lainnya. Banyak pula orang yang mencari rumput untuk hewan ternaknya, mencari kayu di tegal…
Written by Selasa, 04 Juli 2017 Published in Blog
“Kalau ada siswi hamil, ya, harus dikeluarkan dari sekolah. Harusnya, kan, dia tahu itu mencemarkan nama baik sekolah. Lha, dia apa nggak mikirin perasaan orang tua kalau dia melakukan hubungan suami istri sebelum menikah?” Kala itu pertengahan 2015. Kami sedang menyelenggarakan sebuah pelatihan intensif bagi remaja siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama 4 hari. Dalam pelatihan intensif tersebut 13 remaja perempuan menjadi peserta di kelas perempuan. Kami mendiskusikan kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana terlibat dalam upaya pencegahan sebagai pendidik sebaya bagi teman-temannya. Saat itu kami sedang membicarakan pengalaman sebagai perempuan. “Misalnya dia hamil karena diperkosa, bagaimana?” tanya saya. “Ya, tetap harus dikeluarin, kan, dia hamil. Bagaimanapun, jangan sampai nama sekolah menjadi buruk di luar sana,” tambah Lina. Ini pertama kali saya bertemu dengan mereka, siswi-siswi terpilih dari berbagai SMK di Kabupaten Gunungkidul. “Sebagai perempuan, saya tidak suka menangis,” ucap Wenda,…
Written by Selasa, 04 Juli 2017 Published in Blog
Pertemuan itu memang sudah diagendakan dua bulan yang lalu. Begini ceritanya, setelah program Laki-Laki Peduli berakhir, pada penghujung 2015 kami membuat pertemuan gabungan di balai desa Bendung, dengan mengundang alumni diskusi dua jam di komunitas di Desa Bendung dan Semin, Gunungkidul, baik kelas ibu, ayah, maupun remaja. Pertemuan ini bertujuan melihat sejauh mana komitmen alumni peserta diskusi untuk menindaklanjuti pertemuan ke depan meski program sudah berakhir. Pada pertemuan ini kami berupaya menggali pembelajaran-pembelajaran yang mengesankan untuk mereka. Ternyata banyak hal positif yang mereka dapatkan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Mereka mulai bisa mengontrol emosi (dengan menerapkan manajemen time out), membangun komunikasi dengan pasangan, lebih dekat dengan anak, terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, bekerja sama dalam mengambil keputusan, dan lain-lain. Mas Jatmiko bercerita, dulu, ia dengan istrinya ungkur-ungkuran[1], “Bapak madep ke sana, ibu madep ke sini.” Dia merasa komunikasi dengan…
Facebook SquareTwitter square

Statistik

Hari ini375
Bulan ini14880
Pengunjung728809

Kamis, 17 Agustus 2017 13:03

Guests : 44 guests online