Blog

Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Blog
Saya masih ingat betul pagi itu. Saya mendatangi rumah Suwar dan Mei dan mendapat sambutan yang ramah. Saya sampaikan kepada mereka bahwa saya dari Rifka Annisa. Saya mendapat rekomendasi dari pak dukuh Garang untuk mengajak Suwar dan Mei terlibat dalam serial diskusi dua jam program pelibatan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Suwar menyanggupi ajakan tersebut tetapi Mei masih ragu-ragu karena bekerja di pabrik wig di Kulon Progo. Pada pertemuan pertama, Suwar (30 tahun) bercerita, lima tahun lalu, dia menikahi Mei yang berusia lebih tua dua tahun dan telah mempunyai dua anak dari mantan suaminya. Mereka bertemu ketika sama-sama menjadi karyawan di sebuah pabrik garmen di Yogyakarta. Ini menarik, fenomena perjaka menikahi janda jarang terjadi karena akan muncul gunjingan-gunjingan di masyarakat. Namun, selama saya berinteraksi dengan pasangan tersebut, mereka asyik dengan…
Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Blog
Pagi itu, Minggu, 27 Februari 2016, saya menuju Desa Ngalang, salah satu desa yang tiga tahun ini menjadi tempat saya belajar tentang keluarga dan masyarakat, desa di mana kebersamaan di komunitas masih sangat lekat dengan nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Tradisi gotong royong dan tradisi rasulan[1] berjalan setiap tahun. Tidak hanya itu, masyarakat yang terbuka mempermudah saya berkenalan dan masuk dalam kelompok-kelompok sosial, baik kelompok ibu maupun ayah. Dari sinilah saya kenal warga-warga yang ada di desa ini, salah satunya ibu Tukinah. Ibu Tukinah adalah perempuan yang saya kenal pada tahun kedua tinggal di Ngalang. Ia memiliki dua anak yang duduk di bangku TK dan SMP. Dua anak bersekolah membuat dia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan wig yang ada di Piyungan, Bantul. Ia bekerja mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 18.30 WIB. Situasi ini membuat ia tidak punya banyak…
Written by Jumat, 09 Jun 2017 Published in Blog
Istri pertama saya HP.” Komentar ini saya dengar dari Dwi Hastanto, salah satu peserta diskusi kelas ayah, bapak dari seorang anak perempuan berusia 2,5 tahun. Ungkapan senada juga saya dengar langsung dari istrinya, Hana, di sesi diskusi kelas ibu, “Dia lebih suka dengan HP daripada dengan saya.” Hana dan Dwi menikah tiga tahun yang lalu, setelah berpacaran selama lima tahun. Mereka tinggal di Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, bersama keluarga Hana. Perempuan bertubuh kurus tinggi ini merupakan anak tertua dari tiga bersaudara, adiknya laki-laki semua. Hubungan mereka dengan orang tuanya sangat dekat, mereka saling terbuka, dan pekerjaan rumah selalu dilakukan bersama. Kondisi inilah yang membuat Hana lebih betah tinggal di rumah orang tuanya sendiri dibandingkan dengan tinggal bersama mertua yang otoriter dan tidak hangat.  Sayangnya kebahagiaan ini hanya dirasakan pada minggu pertama awal pernikahan saja. Setelah itu, pernikahan mereka sering diwarnai pertengkaran.…
Written by Minggu, 19 Maret 2017 Published in Blog
Oleh Wakhit Hasim (Anggota perkumpulan Rifka Annisa; Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon)     Kontribusi gerakan perempuan terhadap perubahan tata hukum di Indonesia dapat dikatakan progressif melebihi dari gerakan lain. Sejak munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memperjuangkan nasib perempuan tertindas pada masa Orde Baru tahun 1980-an, hingga munculnya gerakan advokasi kebijakan publik tahun 90an-2000an, gerakan ini menghasilkan sederet undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan lain di bawahnya misalnya UU PKDRT (Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) No. 23 Tahun 2004, UUPA (Undang-undang Perlindungan Anak), UU PTPPO (Undang-undang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang) No. 21 Tahun 2007, Kepres RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) Tahun 2001, Peraturan Menteri tentang SOP Layanan Perempuan Korban Kekerasan Tahun 2008, Layanan Satu Atap P2TP2A, pembentukan Komnas Perempuan, bahkan penggantian nama Kementerian Peranan Wanita menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dan masih banyak lagi.…
Written by Rabu, 08 Maret 2017 Published in Blog
Tiada henti, badai derita menimpa rumah tanggaku hingga aku jungkir balik menyelesaikannya. Aku menikah dengannya pada tahun 2001. Sejak awal menikah, suamiku adalah seorang pecandu narkoba. Namun aku tetap mencintainya walau ia sempat masuk jeruji besi. Selepas ia keluar dari penjara, ia sudah tidak menafkahiku dan anak-anaknya secara layak sehingga aku nekad berdagang. Bahkan ia membatasiku dalam bergaul terutama setelah aku mempunyai handphone Android. Ia selalu cemburu padaku karena aku telah memiliki akun facebook dan aku suka aktif like-comment status fb teman-temanku. Dan suamiku menuduhku berselingkuh dengan teman-teman lamaku. Aku selalu berusaha coba jelaskan fakta sesungguhnya pada suami. Tapi ia tetap tidak percaya. Tiba-tiba, ia mau memaafkanku asal aku mau tidur bersamanya. Memang sudah kewajibanku untuk melayani suami dalam segala hal sepanjang itu adalah baik. Namun, dua hari setelah aku tidur bersamanya tiba-tiba keponakanku dari Jakarta mengirim pesan via WA…
Facebook SquareTwitter square

Statistik

Hari ini1025
Bulan ini36190
Pengunjung677291

Rabu, 28 Jun 2017 20:57

Guests : 74 guests online