Memoar

Written by Administrator Monday, 30 July 2018 Published in Memoar
Saya Tina (bukan nama sebenarnya), saya lahir tahun 1962, saya menikah pada tanggal 2 Maret 1984, kami sudah dikaruniai 2 orang anak,  sampai 12 tahun usia pernikahan saya, keluarga kami harmonis dan bahagia kalaupun ada konflik kami selalu mampu menyelesaikan dengan baik. Namun pada bulan April 1997 tiba-tiba suami saya selalu mencari masalah, walaupun demikian saya menanggapinya dengan santai dan tidak terlalu serius, seringkali sambil senda gurau saya berkata “Pak! Keluarga sudah tentrem, kok suka cari-cari” (mencari masalah, red.). Namun sampai bulan Mei tidak ada perubahan kok malah semakin parah, dia semakin membenci saya. Dalam keadaan seperti ini saya kerapkali merenung,  barangkali saya yang salah, tapi toh saya tidak menemukan kesalahan yang saya perbuat, hingga suatu ketika saya sakit dan tentu saja fisik saya lemah, saya pesen sama anak-anak dan suami kalau hari ini saya tidak bisa diganggu karena mau…
Written by Administrator Monday, 30 July 2018 Published in Memoar
Tiada henti, badai derita menimpa rumah tanggaku hingga aku jungkir balik menyelesaikannya. Aku menikah dengannya pada tahun 2001. Sejak awal menikah, suamiku adalah seorang pecandu narkoba. Namun aku tetap mencintainya walau ia sempat masuk jeruji besi. Selepas ia keluar dari penjara, ia sudah tidak menafkahiku dan anak-anaknya secara layak sehingga aku nekad berdagang. Bahkan ia membatasiku dalam bergaul terutama setelah aku mempunyai handphone Android. Ia selalu cemburu padaku karena aku telah memiliki akun facebook dan aku suka aktif like-comment status fb teman-temanku. Dan suamiku menuduhku berselingkuh dengan teman-teman lamaku. Aku selalu berusaha coba jelaskan fakta sesungguhnya pada suami. Tapi ia tetap tidak percaya. Tiba-tiba, ia mau memaafkanku asal aku mau tidur bersamanya. Memang sudah kewajibanku untuk melayani suami dalam segala hal sepanjang itu adalah baik. Namun, dua hari setelah aku tidur bersamanya tiba-tiba keponakanku dari Jakarta mengirim pesan via WA…
Written by Administrator Wednesday, 11 July 2018 Published in Memoar
Bocah ayu itu bernama Ananda. Usianya sekarang 15 tahun. Beberapa bulan lagi, Ananda akan menjadi seorang ibu. Liku hidup Ananda berawal dari pertemuannya dengan Aji, seorang mahasiswa yang dikenalnya dalam sebuah acara. Setelah ratusan pesan saling terpampang di layar handphone keduanya, mereka pun berpacaran. Perubahan status ini membuat keduanya semakin sering berbalas pesan maupun bertemu berdua. Ananda merasa nyaman bersama Aji. Namun, tanpa disadarinya kenyamanan itu perlahan menjadi belukar yang membingungkannya. Isi pesan Aji tidak lagi sekedar menanyakan kabar tapi juga menanyakan tentang hal-hal bersifat seksual. Pertemuan mereka tidak hanya berisikan cerita tapi juga bujukan melakukan hubungan seksual, Aji bilang sebagai bukti sayang. Ananda tidak tahu pada siapa ia bisa mengurai kebingungannya. Tidak mungkin pada orangtua yang ia sembunyikan hubungan ini dari keduanya, tidak pula pada teman-teman yang akan menjauhinya, begitu pikir Ananda saat itu. Yang Ananda tahu Aji memberikan…
Written by Administrator Wednesday, 11 July 2018 Published in Memoar
Aku tidak suka berada di rumahku, di rumahku aku hanya akan merasa sendiri tanpa ada teman mengobrol. Aku tinggal bersama ayahku yang sibuk bekerja, ibu tiriku dan adik tiriku. Ibu tiriku tidak pernah memarahiku,namun juga jarang berbicara denganku. Aku kesepian. Aku rasa hidupku ini paling malang di dunia ini, aku tidak punya ibu kandung sementara ayahku sibuk. Di sekolah aku bukan murid yang menonjol, aku pendiam, aku juga tidak cantik. Aku berandai-andai seandainya aku terlahir dengan wajah cantik seperti temanku Ririn. Aku juga tidak pandai, pelajaran sekolah memusingkan kepalaku, aku punya cita-cita suatu hari nanti aku akan menjadi artis. . Suatu hari aku berkenalan dengan lelaki yang lebih tua dariku. Dia mengucapkan kata-kata manis untukku. Jika libur sekolah, dia akan mengajakku pergi ke tempat yang menarik. Dia mentraktirku makan, membelikan hadiah yang kusuka. Sejak bersamanya aku tidak merasa kesepian lagi. Dia berlutut…
Written by Tuesday, 04 July 2017 Published in Memoar
“Kalau ada siswi hamil, ya, harus dikeluarkan dari sekolah. Harusnya, kan, dia tahu itu mencemarkan nama baik sekolah. Lha, dia apa nggak mikirin perasaan orang tua kalau dia melakukan hubungan suami istri sebelum menikah?” Kala itu pertengahan 2015. Kami sedang menyelenggarakan sebuah pelatihan intensif bagi remaja siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama 4 hari. Dalam pelatihan intensif tersebut 13 remaja perempuan menjadi peserta di kelas perempuan. Kami mendiskusikan kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana terlibat dalam upaya pencegahan sebagai pendidik sebaya bagi teman-temannya. Saat itu kami sedang membicarakan pengalaman sebagai perempuan. “Misalnya dia hamil karena diperkosa, bagaimana?” tanya saya. “Ya, tetap harus dikeluarin, kan, dia hamil. Bagaimanapun, jangan sampai nama sekolah menjadi buruk di luar sana,” tambah Lina. Ini pertama kali saya bertemu dengan mereka, siswi-siswi terpilih dari berbagai SMK di Kabupaten Gunungkidul. “Sebagai perempuan, saya tidak suka menangis,” ucap Wenda,…
Page 1 of 5
10514852
Today
This Week
This Month
Last Month
All
46604
98000
1984779
2752018
10514852